meninjau: Ketua Komisi D, Ferro Sopacua berdialog dengan para siswa SDN Batutulis 2 saat berkunjung ke sekolah tersebut, kemarin.
Hari pertama masuk sekolah pasca liburan Ujian Akhir Semester (UAS) menjadi mimpi buruk bagi ratusan siswa SDN Batutulis 2. Ya, di hari pertamanya sekolah, sebanyak 500 siswa kehilangan tempat belajar yang biasa dipakai setiap hari untuk menimba ilmu, setelah si jago merah menghanguskan semuanya.Laporan: MUHAMMAD RURI ARIATULLAH
Bau asap masih menyengat hidung saat wartawan koran ini mengunjungi SDN Batutulis 2 di Jalan Batutulis No 137, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, kemarin. Padahal, sudah satu hari kebakaran yang menghanguskan ruang belajar beserta data penting milik sekolah itu terjadi.
Genangan air dari mobil pemadam kebakaran pun mengotori halaman sekolah yang berdiri sejak 1935 tersebut. Sementara, police line yang dipasang polisi masih mengitari lokasi kebakaran yang terjadi Senin (9/1) itu.
Puing bangunan berserakan di mana-mana, dan beberapa sisa bangunan yang terbakar tampak lapuk sehingga mengancam keselamatan siswa.
Letak ruang kelas V dengan kepala sekolah agak berdempetan. Bahkan, satu ruang disekat menjadi tiga bagian, yakni ruang kerja kepala sekolah, perpustakaan dan unit kesehatan sekolah (UKS).
Posisinya yang berada di tengah-tengah bangunan membuat api sulit terlihat karena terhalang tembok. Hal ini membuat beberapa data penting milik sekolah tidak bisa diselamatkan, karena penjaga sekolah terlambat mengetahui kebakaran tersebut.
Lokasi kebakaran yang berada di depan pintu masuk, menjadi tontonan para siswa dan orangtua saat menginjakkan kakinya di halaman sekolah pada pukul 08:00. Mereka membicarakan peristiwa kebakaran yang menyebabkan 500 murid terpaksa diliburkan di hari pertama sekolah.
“Untuk hari ini (kemarin, red) semuanya telah berjalan normal meski ada perubahan jadwal masuk kelas. Tetapi, hal itu tidak mempengaruhi kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa,” kata Kepala SDN Batutulis 2, Muhammad Nurdin.
Kebakaran yang menimbulkan kerugian sebesar Rp500 juta itu membuat siswa kelas V A dan V B terpaksa harus mengungsi sementara di SDN Batutulis 3.
Mereka terpaksa masuk kelas siang setelah siswa di sekolah tetangga pulang. “Mau bagaimana lagi karena kami juga tidak memiliki kelas untuk menampung 80 siswa di kelas V,” imbuh Nurdin.
Agar KBM tetap berjalan, pihak sekolah membuat beberapa perubahan jadwal masuk. Kelas I yang awalnya tiga lokal kini dipadatkan menjadi dua lokal.
Sementara, siswa kelas IV pindah ke ruangan kelas VI. Sedangkan, siswa kelas V menumpang belajar di SDN Batutulis 3 dengan jadwal masuk pukul 13:00 siang.
Selain itu, jadwal les tambahan siswa kelas VI A dan B yang tadinya setiap hari, kini berubah menjadi dua hari per lokal.
Kendati belum terasa, dua hingga satu bulan menjelang ujian pasti akan terasa dampaknya. Hal ini diperparah dengan genangan air serta bau sampah yang menyengat di lokasi kebakaran.
Jika tak dilakukan upaya pembersihan, maka akan mendatangkan penyakit bagi siswa.
Nurdin menuturkan, saat ini yang dilakukan adalah mengumpulkan data yang sempat diselamatkan. Terutama data lama yang ada sejak 1935. “Kita mulai dari nol lagi karena hanya ada buku induk siswa. Untuk data penting lainnya, sudah kita ajukan ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor mudah-mudahan ada kepastian,” katanya.
Kebakaran itu juga membuat sejumlah siswa mengaku kebingungan karena tidak tahu harus belajar di mana.
Hal ini dialami oleh siswa kelas V yang ruang kelasnya hangus dilalap si jago merah. “Nggak tahu Om mau belajar di mana,” kata Rangga (10), salah satu siswa dengan polos.
Hal senada dikatakan orangtua siswa, Heni (39) yang mengaku kaget saat pertama kali melihat sebagian ruang kelas hangus terbakar. “Anak saya sempat teriak ketakutan karena melihat ruang kelasnya terbakar. Apalagi, ini baru pertama kali masuk sekolah,” ungkapnya.
Kondisi serupa juga dialami siswa lainnya yang menolak masuk sekolah karena ruang kelasnya tidak bisa dipakai belajar. “Tadinya anak saya tidak mau sekolah. Tapi, karena ini hari pertama belajar akhirnya saya paksakan berangkat,” terang Dini (41).
Sementara itu, Komisi D DPRD Kota Bogor melakukan kunjungan ke SDN Batutulis 2 untuk melihat kondisi bangunan yang terbakar.
Di antaranya Ketua Komisi D Ferro Sopacua, Wakil Ketua Komisi D Atmadja serta beberapa anggota seperti Sumiati dan Budi Sulistio.
Mereka didampingi oleh Kabid Sarana dan Prasarana (Sarpras) pada Dinas Penndidikan Kota Bogor, Aan S Hamzah meninjau titik lokasi kebakaran. Ferro sempat berbincang kepada beberapa siswa untuk mengetahui perasaan mereka melihat sekolahnya terbakar.
“Bagaimanapun KBM tidak boleh berhenti dan kepolisian harus menuntaskan penyelidikannya agar sampah di lokasi kebakaran segera diangkut karena sangat berbahaya bagi kesehatan siswa,” katanya.
Ferro mengusulkan agar renovasi bangunan menggunakan dana darurat penanggulangan bencana karena kebakaran termasuk musibah. Hal ini untuk menjaga agar konsentrasi siswa kelas VI tidak terganggu karena minimnya ruang kelas.
“Kita akan usulkan itu sambil menunggu Disdik menghitung berapa anggaran yang diperlukan untuk renovasi kelas dan ruang kepala sekolah,” imbuh politisi Partai Demokrat itu.
Menanggapi hal itu, Kabid Sarpras Disdik Kota Bogor, Aan S Hamzah menjelaskan, renovasi kelas SDN Batutulis 2 menjadi prioritas utama jika APBD 2012 telah cair.
Namun, berapa jumlah pastinya akan dilakukan penghitungan ulang dengan konsultan.
“Paling cepat Februari sudah kita lakukan karena sebentar lagi ujian akan dimulai. Dan anak-anak butuh ketenangan dalam belajar agar tidak terganggu hal seperti ini,” katanya.
EmoticonEmoticon