SBY Ditantang Jadikan Esemka sebagai Mobnas
JAKARTA-Dukungan terhadap keberadaan mobil Esemka buatan siswa-siswa SMK di Solo dan Klaten, Jawa Tengah terus bergulir. Bahkan Wakil Ketua MPR RI, Lukman Hakim Saifuddin, mengharapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berani mendorong Esemka agar menjadi mobil nasional (mobnas). Menurut Lukman, saat ini adalah momentum tepat untuk mendongkrak daya saing karya-karya anak negeri.
"Jangan sampai kehilangan momentun, karena persaingan dengan negara lain akan semakin sulit," ujar Lukman di Jakarta, Rabu (4/1). Lebih lanjut politisi muda PPP itu menambahkan, mencuatnya Esemka itu juga bisa menjadi titik balik agar pemerintah berani menghadapi raksasa otomotif luar negeri yang terus membanjiri Indonesia dengan produk-produknya.
Lukman justru berharap di era kepemimpinan SBY ini tercipta mobnas yang benar-benar murni karya bangsa sendiri. Lukman mengakui, pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan besar dari serbuan mobil asing memang akan gerah jika nantinya Esemka jadi mobnas. “Tapi tak perlu takut dengan ancaman korporasi asing dan pihak-pihak yang selama ini mengambil keuntungan dari banjir mobil impor.
Praktik-praktik seperti itu harus dilawan, kepentingan rakyat harus didahulukan," cetusnya. Lukman bahkan menegaskan, SBY tidak akan dianggap melakukan pencitraan jiak nantinya berani mencanangkan program mobnas. Sebab, SBY yang sudah dua kali terpilih di Prilpres tak dimungkinkan maju lagi pada Pilres 2014.
Sebaliknya, kata Lukman, SBY perlu meningalkan warisan yang monumental dan dikenang seluruh anak bangsa. "Salah satunya ya Mobnas ini. Pemerintah memiliki anggaran yang besar untuk mengembangkan mobnas dan saya kira pendanaan untuk pengembangannya bukan persoalan besar," ulasnya.
Alat Pencitraan
Mobil Kiat Esemka mencuat setelah dijadikan sebagai mobil dinas Walikota Solo Joko Widodo dan Wakilnya FX Hadi Rudyatmo. Kini, para politisi di Jakarta pun seperti tidak ingin ketinggalan momen, dan rame-rame ikut memesan mobil buatan para siswa-siswa SMK di Solo dan Klaten tersebut. Sejumlah politisi yang sudah menyatakan memesan mobil Kiat Esemka antara lain Ketua DPR Marzuki Alie, angota DPR Roy Suryo, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, politisi PDIP Tjahjo Kumolo, Sekretaris Fraksi PPP DPR RI, Arwani Thomafi, dan masih banyak lagi.
Fenomena ramai-ramai memesan mobil esemka tersebut ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. Ada yang menganggap sebagai bentuk kelatahan dan pencitraan belaka. Namun, ada juga yang menganggap fenomena tersebut sebagai bentuk potensi bisnis untuk mengangkat mobil local tersebut sebagai modal untuk membangun mobil nasional. Kepada wartawan di Jakarta, Wakil Ketua DPR Anis Matta meminta para politisi jangan latah ikut-ikutan memesan mobil Kiat Esemka untuk mobil dinas.
Menurut dia, penggunaan mobil dinas sudah ada aturan tersendiri. "Tidak perlu latah seperti itu. Kalau untuk mobil dinas kan sudah ada aturan protokolernya. Tidak perlu lah kita gaya-gayaan. Kalau kita beli untuk kebutuhan rumah tangga kan bisa," kata Anis Matta (4/1). Menurutnya, banyak cara untuk mengapresiasi mobil tersebut dengan tidak mengikuti arus politik pencitraan.
Latah memesan mobil esemka supaya dianggap menghargai produk local. Menurut Anis, cara mengapresiasi mobil karya kerja siswa SMK di Solo, Jawa Tengah, itu jangan berhenti sebatas pada penggunaan untuk mobil dinas. ”Perlu diproduksi massal agar dapat digunakan rakyat menengah ke bawah,” katanya. Namun demikian, Anis Matta menyatakan keberhasilan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam merakit mobil ini perlu diapresiasi.
Bahkan, tambah dia, DPR harus mempelajari produk itu lebih jauh. Sementara itu, menurut Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat, gebrakan Jokowi sebenarnya menjadi kritikan pedas terhadap pemerintah dan lembaga riset yang belum mampu mendorong kemandirian industri otomotif dalam negeri. "Produk mobil esemka itu menjadi tamparan keras bagi kita, ke mana saja lembaga riset yang dibiayai negara hingga triliunan rupiah? Masak kalah dengan SMK yang modalnya kecil.
Kita banyak orang pintar, seharusnya sejak dulu bisa membuat mobil sendiri," kata Komaruddin, tadi malam. Menurutnya, keterpurukan industri otomotif dalam negeri karena ada masalah di level pengambil kebijakan. Jika industri otomotif dalam negeri seperti esemka maju, katanya, maka akan ada pihak-pihak yang dirugikan. "Pasti ada yang tidak suka," tuturnya.
Untuk Patwal DPR
Kemarin (4/1), Ketua DPR RI Marzuki Alie mendatangi tiga mobil esemka yang diparkir di depan kantor Pemkot Surakarta. Kepada tenaga ahli esemka, Budi Martono, ia menanyakan segala sesuatu terkait spesifikasi mobil yang sedang hangat dibincangkan tersebut. Setelah mendapat penjelasan, dia pun memesan satu unit mobil pick up double cabin Esemka Rajawali.
”Saya beli satu mobil ini untuk Patwal DPR. Berapa harganya? Jangan mahal-mahal lah. Ketua DPR nggak punya uang! Nanti dibilang korupsi pula kalau banyak uang,” lontar Marzuki berseloroh. Kepada wartawan, Marzuki menegaskan perlu mendukung buah karya anak bangsa yang nota bene masih duduk sebagai siswa SMK kelas 11 itu. ”Dengan hadirnya mobil-mobil ini, membuktikan kalau bangsa ini punya potensi yang sangat besar dan berkapasitas untuk menghasilkan suatu produk yang membanggakan bangsa,” lanjut Marzuki usai berfoto bersama belasan siswa-siswa SMK yang sudah memproduksi mobil Esemka itu.
Menurut Budi Martono, harga mobil yang dipesan Marzuki Rp 75 juta off road, kalau on road plus 10 persen untuk melengkapi surat-surat kendaraanya seperti STNK, BPKB dan nopol. ”Tapi mestinya kalau yang namanya Ketua DPR akan saya mintakan Rp 250 juta,” lontarnya lantas terkekeh. Politisi Partai Demokrat itu juga mengatakan keberhasilan siswa-siswa SMK itu merupakan jalan mewujudkan program mobil nasional bangsa yang selalu saja kandas sebelumnya.
”Sampai sekarang kita belum punya mobil nasional yang benar-benar menjadi kebanggaan dan andalan bangsa. Ini harus kita dukung terus, supaya apapun kekurangannya akan terus disempurnakan sehingga benar-benar menjadi produksi kebanggaan kita semua. Sekali lagi ini wajib hukumnya didukung,”papar Marzuki. Budi Martono memastikan 80 persen komponen mobil esemka murni buatan lokal yang diproduksi siswa-siswa SMK 2, SMK 5, SMK Warga, SMK Digjaya dan SMK Rajawali di Solo.
”Yang 20 persen sisanya itu diimpor dari China, yaitu cincin torax, katup dan mesin injection-nya. Sedangkan seperti mesin, body, interior, chasis, dashboard, ban dan velg murni buatan lokal ada yang dibuat sendiri dan ada yang dibeli. Tapi mesin-mesin mobil mulai dari pencetakan, sistem mesin hingga paking yang buat kita. Mesin yang kita buat ini bertype twincam varian Sport Utility Vehicle (SUV) dengan kapasitas 1.500 cc empat silinder plus sistem bahan bakar multi point injection,” papar Martono yang biasa disapa Toto.
Diuraikannya, spesifikasi mesin lainnya mesin menghasilkan tenaga 105 horse power(hp) pada putaran 5.500 rpm dengan torsi puncak 145 Nm di 4.100 rpm. Daya angkut mobil 7 orang dengan panjang monil 5.035 mm, lebar 1.690 mm, dan tinggi 1.630 mm. Fitur elektronik mobil power steering, central lock, power windows, AC dual zone, sensor parking, hingga head unit CD player.
”Setiap SMK terdiri dari 10 siswa dan 6 guru pembimbing. Setiap asembling di SMK masing-masing, tapi perakitan di Solo Technocar. Untuk memperdalam ilmu mesin dan chasis siswa-siswa menimba ilmunya di Autocar, untuk memperdalam ilmu body di Kiat Motor,” ungkap Toto dengan nada bangga.
EmoticonEmoticon