Kamis, 12 Januari 2012

TIDAK AMAN: Seorang mahasiswi mencoba behel mainan yang banyak dijual bebas. Aneka ragam kawat gigi palsu yang sekarang menjadi tren (insert). BOGOR-

TIDAK AMAN: Seorang mahasiswi mencoba behel mainan yang banyak dijual bebas. Aneka ragam kawat gigi palsu yang sekarang menjadi tren (insert).
BOGOR-Memasang kawat gigi atau yang lazim disebut behel atau bracket seolah sudah menjadi tren dan bagian dari lifestyle saat ini. Sebab, bentuk kawat gigi sekarang lebih variatif.

Bisa berhias mainan kecil aneka bentuk serta warnanya yang beragam sesuai keinginan.

Maka tak heran, banyak orang yang secara fungsi tidak memerlukan juga ikut-ikutan menggunakan benda yang satu itu.

Bahkan, demi bisa tampil fashionable, mereka rela memasang kawat gigi di tempat yang tidak semestinya, dengan iming-iming harga yang lebih murah. Padahal, pemasangan kawat gigi seharusnya hanya dilakukan oleh dokter gigi spesialis ortodonti.

Namun kenyataannya, banyak juga dokter gigi yang tergiur dengan maraknya pemasangan kawat gigi di kalangan ABG ini, hingga membuat mereka mengambil spesialis lain atau membuka praktik tersebut. Bisa ditebak, hasilnya tidak maksimal.

Alih-alih membuat cantik, struktur wajah bisa menjadi tidak simetris di bagian mulut dan terlihat lebih tua beberapa tahun karena pemasangan yang salah dan tidak sesuai.

”Pemasangan kawat gigi oleh orang yang tidak kompeten dan mengakibatkan sesuatu yang membahayakan bisa dikategorikan sebagai melanggar kesehatan pasien,” tutur dokter gigi dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kota Bogor, drg Eliyanti.

Menurut Eli, seseorang dikatakan membutuhkan kawat gigi jika merasa susunan giginya tidak teratur. Seperti tonggos, gigitan terbalik/nyakil, gigitan terbuka atau ada rongga di bagian depan ketika gigi atas dan bawah dikatupkan, gigi berdesakan, atau ketika bentuk wajah dan gigi tidak simetris.

Diharapkan, pemasangan kawat gigi tersebut bisa membuat susunan yang tidak teratur tadi menjadi lebih baik. Yang tentunya akan berimbas ke banyak hal, seperti kesehatan rongga mulut, fungsi kunyah yang lebih baik, estetika wajah, hingga fungsi bicara.

Membuat kawat gigi di tempat yang semestinya atau pada seorang ortodontis tidak sesederhana membuat kawat gigi pada tukang gigi yang kebanyakan hanya mencetak gigi, kemudian mencabut beberapa dan memasang kawat.

Struktur gigi pasien akan dilihat dengan mata telanjang untuk menentukan apakah penggunaan kawat memang diperlukan atau tidak.

Tahap selanjutnya adalah mela­kukan foto rontgen gigi untuk melihat struktur gigi di dalam gusi. Setelah kelar, pasien yang bersangkutan akan difoto juga menggunakan kamera biasa dalam berbagai pose.

Misalnya, tampak depan dalam kondisi diam, tampak samping, foto ketika tersenyum, foto gigi pada rahang atas maupun bawah, sampai foto ketika menggigit.

Foto-foto tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi dan pembanding ketika proses perawatan sudah selesai. Tetapi, juga digunakan untuk melihat apakah ada kesalahan struktural pada bentuk wajah yang diakibat­kan oleh susunan gigi pasien.

Melihat rumitnya pemasangan kawat gigi membuktikan bahwa hal itu hanya bisa dan berhak dilakukan oleh dokter gigi yang menyandang spesialis ortodonti.

Mereka harus menempuh pendidikan selama kurang lebih 3-5 tahun untuk mendapatkan gelar spesialisnya.

Sayangnya, saat ini semakin banyak tukang gigi yang menerima pe­masangan kawat gigi dengan harga yang relatif lebih murah. Padahal, pelajaran mengenai pemasangan kawat hanya diajari secara mendasar.

Itu pun, mempela­jari alat pemasang gigi yang lepasan, bukan alat yang cekat atau behel. Jadi, kebanyakan tukang gigi yang menerima pemasangan kawat gigi itu hanya bermodalkan ilmu seadanya bukan melalui praktik yang dibenarkan.


EmoticonEmoticon