Rabu, 01 Februari 2012

Sukarela Musnahkan Unggas Kena Flu Burung,25 Ekor Ayam Dibakar

DIBAKAR: Warga Kampung Kayumanis, Kelurahan Cibadak, membakar puluhan unggas yang diduga terjangkit virus flu burung, kemarin.
BOGOR-Sebanyak 25 ekor ayam dan puluhan kandang milik warga Kampung Kayumanis, RT 03/01, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanahsareal, dibakar. Cara ini dilakukan untuk menghindari penyebaran virus flu burung di Kota Bogor.

Ketua RT 03 Kayumanis, Anwar menyatakan, pembakaran unggas dilakukan secara sukarela oleh warga, setelah ditemukan sejumlah ayam yang mati mendadak di wilayahnya.

“Warga sukarela memusnahkan unggas miliknya. Karena sudah ada dua warga kami yang dalam masa pengawasan,” tutur Anwar saat ditemui saat pemusnahan unggas, kemarin.

Anwar mengatakan, sejak dua warganya, yakni Ipan Sopian (62) dan Hayati (38) dikabarkan terjangkit Flu Burung, pihaknya segera mengantisipasi masalah ini. Dalam pertemuan di Kantor Kelurahan Cibadak, Minggu (29/1), warga sepakat memusnahkan unggasnya.

Sebelum dibakar hewan yang masih dalam kondisi hidup disembelih terlebih dahulu baru dibakar. Hampir sebagian besar unggas yang ada di wilayahnya telah dimusnahkan.

“Warga sangat khawatir virus ini cepat menyebar kepada manusia. Oleh karena itu warga secara sukarela memusnahkan unggas milik warga agar tidak menyebar luas,” bebernya.

Walaupun belum semua unggas dimusnahkan Anwar memakluminya, karena warga masih merasa keberatan karena mata pencaharian mereka memang berasal dari unggas tersebut.

Dinas Pertanian (Distan) Kota Bogor memberikan apresiasi atas tindakan antisipatif warga ini. Mereka menilai, warga sudah menyadari bahaya yang mencul dari virus H5N1 itu. Rencananya, Distan bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengunjungi lokasi pemusnahan pada Jumat (3/2).

“Akhir pekan ini, kita lakukan penyemprotan di daerah yang kita duga muncul virus Flu Burung. Nanti kita lihat kondisi unggas-unggas milik warga itu usai penyem­protan, apakah harus dimusnahkan atau tidak,” ujar Kepala Bidang Peter­nakan pada Distan Kota Bogor, Robert.

Sedangkan untuk dua warga yang diduga terjangkit virus H5N1, Distan akan terus berkoordinasi dengan Dinkes untuk mengawasi kondisi tubuh mereka.

“Kedua warga itu sedang dalam masa inkubasi 14 hari. Jika dalam masa itu muncul gejala seperti terkena H5N1, akan langsung kita kirim ke rumah sakit rujukan Flu Burung di Jakarta. Kalau stabil, cukup kita beri Tamiflu. Yang pasti akan terus kita pantau,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf meminta agar masyarakat lebih cermat dalam menanggapi wabah flu burung yang akhir-akhir ini kembali merebak. Pasalnya, penyebab matinya unggas bukan hanya berasal virus H5N1 saja. Tetapi, bisa jadi karena penyakit lain.

Mantan artis yang kini terjun ke du­nia politik itu mengatakan, untuk men­­cegah keraguan masyarakat, se­baiknya unggas yang masih hidup di­so­lasi terlebih dahulu untuk melihat apa karena flu burung atau apa.

Jika kemudian terindikasi suspect, baru di­laporkan kepada instansi terkait. “Ja­ngan hanya karena satu atau dua ung­­gas mati lalu dikatakan kena flu burung,” ujarnya saat ditemui seusai mem­­buka turnamen basket DBL di GOR Pajajaran, beberapa waktu lalu.

Pria yang juga mantan atlet karate ini menilai, epidemi flu burung baru akan terjadi jika di satu wilayah terdapat belasan bahkan puluhan unggas yang mati secara bersamaan.

“Kalau sudah terjadi demikian, Dinas Kesehatan maupun Pertanian harus cepat tanggap agar penyebarluasannya tidak menyentuh manusia,” jelasnya.

Untuk menghindari resiko terjangkit flu burung, Dede menyarankan masyarakat harus cermat dalam memilih daging unggas dan cara memasaknya.

Selain itu, jika ada unggas yang berkeliaran dan diketahui tidak dalam kondisi sehat, harus dihindari da laporkan segera ke Dinas Pertanian.


EmoticonEmoticon