PRIHATIN: Syahril, pasien yang menderita tumor mata hanya bisa dikemoterapi karena tubuhnya belum stabil.
Kerap tubuh mungil Syahril Syahputra (2), warga RT 01/05, Kampung Cibolangbawah, Desa Banjarwangi, Kecamatan Ciawi, terlihat gemetar menahan sakit. Ibunya, Mimin (35), pun harus tetap waspada memperhatikan anaknya yang sering berusaha menyentuh tumor di matanya itu. Sebab jika tak diawasi, Syahril bisa melukai dirinya sendiri hingga bercucuran darah.Laporan: Ricki Noor Rachman
Syahril telah menjalani perawatan selama tiga bulan di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, menggunakan dana Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).
Selama perawatan, tim dokter hanya melakukan pemeriksaan dan satu kali kemoterapi pada tumor di matanya. “Mungkin karena kondisi tubuh Syahril yang masih labil sehingga belum bisa dilakukan tindakan apa pun,” ucap ayah Syahril, Yudi Samsudin (39) kepada Radar Bogor.
Dokter di RSCM, kata dia, telah memvonis kedua mata Syahril tak dapat diselamatkan. Untuk itu, keluarga mengaku ikhlas dan menerima kenyataan.
Namun, sebagai orangtua, Yudi dan Mimin tetap berjuang agar putra mereka dapat terobati. Yudi harus bekerja keras mencari dana untuk biaya transportasi dari Bogor ke Jakarta yang mencapai Rp350 ribu sekali jalan.
“Pernah kita naik kereta api, tapi matanya keluar darah terus karena dia tak mau diam,” imbuh pria yang bekerja sebagai buruh tani dan kuli bangunan ini.
Sementara itu, Selasa (3/1), Syahril dijadwalkan untuk kembali mendapat perawatan di RSCM. Namun, masa berlaku Jamkesda yang digunakan telah habis.
Staf Desa Banjarwangi, Linda Herlina mengaku telah mengurus perpanjangan Jamkesda Syahril ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor. Tetapi dinas menganjurkan agar Jamkesda-nya dialihkan menjadi Jamkesmas tak berlaku masa habis.
“Sayangnya pengalihan dari Jamkesda ke Jamkesmas membutuhkan waktu lama. Sementara saat ini saya hanya membawa surat rekomendasi dari dinas tentang pengalihan tersebut. Saya khawatir surat ini tak diterima RSCM,” keluhnya.
Yudi dan Mimin selama ini hanya mengandalkan subsidi dari warga sekitar untuk biaya transportasi. Yudi yang berpenghasilan tak menentu ini hanya bisa mengumpulkan Rp30 ribu sehari yang habis untuk keperluan makan kelima anggota keluarga.
Banyak tetangga dan kerabat yang terharu, melihat perjuangan Yudi dan Mimin untuk menyembuhkan putra bungsu mereka. Meski serba kekurangan, pasangan suami istri ini berupaya sekuat tenaga agar tumor di mata anaknya dapat dihilangkan.
Terlebih jika ada keajaiban, dimana kedua mata Syahril dapat kembali melihat dan hidup normal layaknya anak kecil seusianya.
EmoticonEmoticon