Selasa, 03 Januari 2012

Menilik Eksistensi Batik Cinta (1) Berawal saat Kuliah, Berjualan di Kampus

Batik Pekalongan amatlah populer. Tak heran jika eksistensinya membuat Kota Pekalongan dikenal sebagai kota batik. Pekalongan mempunyai potensi besar dan berkembang pesat dalam kegiatan pembatikan. Sehingga, batik ini mampu menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakatnya.

Laporan: Neni Ariani

Inilah yang membuat Ab­dur­rohim, salah satu warga Pekalongan, tertarik mengem­bangkan bisnis batiknya ke wilayah Bogor. Kegiatannya itu sudah di­mulai saat ia masih kuliah di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2007.

“Awalnya hanya sekadar menawarkan ke teman-teman satu kampus. Saya yang ketika itu masih sering pualng pergi Pekalongan-Bogor, membawa beberapa potong batik khas Pekalongan yang saya jual sendiri ke teman-teman di kampus,” kenangnya.

Dengan kisaran harga Rp30 ribu hingga Rp50 ribu, Abdurrohim menjual batik Pekalongan dengan sistem tunai maupun mencicil dengan batas waktu satu minggu.

“Ketika itu jika saya jual di atas Rp50 ribu, khawatir banyak yang keberatan, karena saya menjualnya untuk kalangan mahasiswa,” kata pria kelahiran 12 Juli 1985 itu.

Setelah lulus, kata Abdurrohim, dia berkeinginan untuk tetap meneruskan usahanya berjualan Batik Pekalongan di kota hujan. Dia yakin banyak masyarakat yang tertarik dengan warna dan corak khas batik yang terkenal hingga nusantara.

Batik Pekalongan merupakan batik pesisir, sama halnya dengan batik Paoman dari Indramayu yang kaya akan warna dan biasanya bersifat natural. Batik Pekalongan juga banyak dipengaruhi warga pendatang dari bangsa Cina dan Belanda pada zaman dahulu.

Maret 2010, ia memutuskan untuk membuka toko batik pekalongan dan dikelolanya sendiri. Dengan nama Batik Cinta, pemberian ibunda, dia mulai membuka toko di Ruko Lama Taman Cimanggu.


EmoticonEmoticon