BOGOR–Posisi Bambang Gunawan di tujuh besar polling calon walikota Bogor versi pembaca Radar Bogor digeser pensiunan PNS Pemkot Bogor, Cepi Edhy Mulyana.
Cepi mendapat dukungan 0,14 persen suara. Dia menyingkirkan sekretaris daerah (Sekda) Kota Bogor itu yang hanya meraih 0,06 persen.
Dalam perhitungan tadi malam, Cepi muncul sebagai tokoh baru dengan dukungan lima kupon berkartu identitas dari Bogor Utara.
Sedangkan posisi pertama masih ditempati anggota DPRD Kota Bogor Nanny Ratnawati yang mendapat dukungan 49,94 persen. Dia makin jauh meninggalkan pesaing terberatnya, Rudi Harsa Tanaya yang meraih 36,92 persen.
Lalu siapa Cepi Edhy Mulyana itu? Berdasarkan data yang diterima tim polling Radar Bogor, pria kelahiran Bogor 23 Maret 1949 itu merupakan mantan PNS Pemkot Bogor.
Dia termasuk pendiri organisasi Angkatan Muda Siliwangi (AMS) Bogor bersama Elif Djohan. Dia juga pernah mengikuti calon walikota Bogor periode 2005-2009.
Koordinator tim polling, Benny Irawan menjelaskan, calon dengan dukungan suara terkecil atau posisi tujuh, bisa tergeser oleh kandidat di bawahnya, jika persentase suaranya lebih besar.
“Inilah yang terjadi pada Pak Sekda. Karena dukungan suara terhadap beliau lebih kecil dari suara Pak Cepi, ya posisinya digeser,” terangnya.
Benny terus mengajak pembaca untuk memberikan dukungan kepada calon walikota favoritnya. Karena polling ini dapat menjadi barometer dukungan masyarakat terhadap calon.
“Memang calon-calon ini belum tentu tampil di kancah pilkada yang sebenarnya nanti. Tapi paling tidak kandidat yang ingin bertanding (di pilkada, red) bisa mengukur sejauh mana dia dikenal oleh masyarakat yang nanti memilihnya,” kata Benny.
Hanya ia mengingatkan pengirim lebih teliti mengikuti ketentuan. Karena masih banyak pengirim yang tidak memenuhi persyaratan panitia. Misalnya, ada pengirim yang berasal dari luar Kota Bogor.
“Polling ini kan untuk memilih walikota Bogor. Jadi yang mengirim, ya harus warga Kota Bogor. Kalau ada pengirim dari luar Kota Bogor, akan kita abaikan,” jelasnya.
Selain itu, sistem berlaku pada polling periode II ini membatasi pengirim hanya dapat mengirim satu kupon dukungan untuk satu calon dalam satu hari.
“Jadi kalau ada lebih dari satu kupon dari pengirim yang sama, tidak kita hitung. Tetap hanya dihitung satu suara,” pungkasnya.
Cepi mendapat dukungan 0,14 persen suara. Dia menyingkirkan sekretaris daerah (Sekda) Kota Bogor itu yang hanya meraih 0,06 persen.
Dalam perhitungan tadi malam, Cepi muncul sebagai tokoh baru dengan dukungan lima kupon berkartu identitas dari Bogor Utara.
Sedangkan posisi pertama masih ditempati anggota DPRD Kota Bogor Nanny Ratnawati yang mendapat dukungan 49,94 persen. Dia makin jauh meninggalkan pesaing terberatnya, Rudi Harsa Tanaya yang meraih 36,92 persen.
Lalu siapa Cepi Edhy Mulyana itu? Berdasarkan data yang diterima tim polling Radar Bogor, pria kelahiran Bogor 23 Maret 1949 itu merupakan mantan PNS Pemkot Bogor.
Dia termasuk pendiri organisasi Angkatan Muda Siliwangi (AMS) Bogor bersama Elif Djohan. Dia juga pernah mengikuti calon walikota Bogor periode 2005-2009.
Koordinator tim polling, Benny Irawan menjelaskan, calon dengan dukungan suara terkecil atau posisi tujuh, bisa tergeser oleh kandidat di bawahnya, jika persentase suaranya lebih besar.
“Inilah yang terjadi pada Pak Sekda. Karena dukungan suara terhadap beliau lebih kecil dari suara Pak Cepi, ya posisinya digeser,” terangnya.
Benny terus mengajak pembaca untuk memberikan dukungan kepada calon walikota favoritnya. Karena polling ini dapat menjadi barometer dukungan masyarakat terhadap calon.
“Memang calon-calon ini belum tentu tampil di kancah pilkada yang sebenarnya nanti. Tapi paling tidak kandidat yang ingin bertanding (di pilkada, red) bisa mengukur sejauh mana dia dikenal oleh masyarakat yang nanti memilihnya,” kata Benny.
Hanya ia mengingatkan pengirim lebih teliti mengikuti ketentuan. Karena masih banyak pengirim yang tidak memenuhi persyaratan panitia. Misalnya, ada pengirim yang berasal dari luar Kota Bogor.
“Polling ini kan untuk memilih walikota Bogor. Jadi yang mengirim, ya harus warga Kota Bogor. Kalau ada pengirim dari luar Kota Bogor, akan kita abaikan,” jelasnya.
Selain itu, sistem berlaku pada polling periode II ini membatasi pengirim hanya dapat mengirim satu kupon dukungan untuk satu calon dalam satu hari.
“Jadi kalau ada lebih dari satu kupon dari pengirim yang sama, tidak kita hitung. Tetap hanya dihitung satu suara,” pungkasnya.
EmoticonEmoticon