Selasa, 17 Januari 2012

Dewi Naik ke Langit, Patung Dibersihkan

RADAR BOGOR JELANG IMLEK: Warga Bogor keturunan Tionghoa membersihkan patung dan arca di Wihara Dhanagun di kawasan Jalan Suryakancana Bogor Tengah, kemarin.
BOGOR-Tepat pada 25 Cap Jie Gwee yang jatuh Selasa (17/1), warga keturunan Tionghoa di Kota Bogor mulai mem­bersihkan Wihara Dhanagun. Pembersihan juga dilakukan terhadap patung dewa-dewi di wihara Jalan Suryakancana Kota Bogor itu. Ritual wajib ini dilakukan setelah para dewa-dewi diyakini pergi ke langit pada 24 Cap Jie Gwee atau sehari sebelumnya.

Ketua Pengurus Ritual Wihara Dhanagun Frenkie Sibbald menjelaskan, membersihkan rupang dan wihara adalah tradisi Wihara Dhanagun dalam menyambut Imlek.

Menurut dia, pembersihan ini juga dilakukan oleh masyarakat Tionghoa terhadap altar sembahyang untuk arwah leluhur di rumah mereka masing-masing.

“Dalam menyambut Imlek, kebersihan memang menjadi makna yang hakiki,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara pembersihan kimsin, kemarin.

Pembersihan altar di rumah pribadi merupakan simbol tanda bakti etnis Tionghoa kepada leluhurnya. Pembersihan kelenteng dan rupang-rupang dimaksudkan untuk menyiapkan tempat yang bersih untuk dewa-dewi ketika kembali turun pada hari ketujuh setelah Imlek.

Patung dewa dan orang suci di Wihara Dhanagun ada sekitar puluhan buah. Rupang tersebut terbuat dari kayu, kuningan atau porselen. Tampilan wajahnya sendiri, mulai dari yang rupawan dengan senyum manis hingga angker dan garang.

Acara pembersihan ini sebelumnya didahului dengan ritual sembahyang atau puja bakti. Sebagai permulaan, mereka berdoa memohon berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian bersembahyang dan mengucapkan doa-doa kepada Kong Co Ho Tek Cing Sin, dewa bumi yang dianggap sebagai tuan rumah atau pelindung Wihara Dhanagun. Dewa ini juga diyakini sebagai dewa yang menjadi tuan rumah kelenteng-kelenteng di Bogor.

Di antara koleksi rupang itu ada yang berusia ratusan tahun dan hanya ada di Wihara Dhanagun. Wihara itu sendiri sudah ada sejak 1862 dan merupakan wihara Buddha Mahayana di bawah naungan Sangha Agung Indonesia. Perayaan Imlek tidak ada kaitannya dengan ritual peribadatan Buddha Mahayana.

“Bunyi genta tiga kali berturut-turut sebagai tanda ritual penyucian patung dewa-dewi segera dimulai. Pembersihan dilakukan teratur, dari membersihkan pintu masuk wihara, altar sembahyang serta tempat arca para dewa-dewi,” kata Frenkie.

Setiap arca dibersihkan dengan perlakuan yang berbeda sesuai dengan asal dan bahannya. Arca dewi dibersihkan oleh perempuan, sedangkan arca dewa dibersihkan oleh laki-laki. Perlengkapan buat memandikan atau membersihkan arca cukup dengan air kembang, dan wangi-wangian, sikat gigi serta dan handuk.

Frenkie menjelaskan, ritual memandikan arca ini punya makna khusus. “Harapannya, para dewa bisa mengharumkan jalan kehidupan kita jauh lebih baik. Apakah itu pekerjaan, rezeki, jabatan dan yang baik-baik,” jelas dia.

Imlek itu adalah perayaan tahun baru kalender Cina dan secara tradisi dirayakan oleh orang Cina atau keturunan Tionghoa.

“Perayaan tahun baru itu, sebagaimana perayaan tahun baru lainnya, dilangsungkan secara meriah. Saat itu juga merupakan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga dan bersilaturahmi dengan sanak saudara serta teman dan tetangga,” katanya.

Menurut Frenkie, siapa pun orang Cina dan keturunan Tionghoa biasanya secara tradisi menyeleng­garakan perayaan ini dan melaksanakan ibadah Tahun Baru sesuai agama atau kepercayaan masing-masing.

“Kalau yang agamanya Kristen, ya ibadahnya ke gereja. Yang Islam, ke masjid. Kalau yang Buddha, Tao, dan Konghucu ke wihara atau kelenteng. Jadi melakukan peribadatan sebagai tanda syukur dan gembira menyambut tahun baru sesuai agama masing-masing,” tutur Frenkie.

Dalam penanggalan Tionghoa, tahun ini merupakan tahun Naga Air. Diharapkan masyarakat Tionghoa selalu memiliki semangat, kekuatan, dan keuletan untuk menghadapi setiap masalah.


EmoticonEmoticon