KECROK: Penikmat tutut menyantap hidangan yang dijual di sepanjang Jalan KHR Abdullah bin Nuh Yasmin, kemarin. FIA/RADAR BOGOR
BOGOR–Siapa yang tak kenal tutut. Salah satu jenis keong sawah itu jadi primadona di Kota Bogor. Hal itu setidaknya terlihat di sekitar Jalan KHR Abdullah bin Nuh, kawasan Taman Yasmin, Kecamatan Bogor Barat.
Jalan sepanjang satu kilometer itu dijejeri penjual tutut. Dengan gerobak khusus, mereka berusaha menarik penggemar yang mungkin saja ‘kangen’ dengan penganan tradisional itu. Pantauan Radar Bogor, setiap gerobak tak pernah sepi didatangi pembeli. Bahkan, penggemar tutut bisa langsung mengonsumsinya di kursi atau alas yang disediakan pedagang.
Di-kecrok, begitulah cara orang Sunda makan tutut. Namun jika tak terbiasa, Anda bisa mengeluarkan tutut dari cangkangnya dengan menggunakan tusuk gigi.
Ayu Lestari (21) misalnya. Mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor ini lebih suka menikmati tutut yang masih bercangkang, meski harus menggunakan tusuk gigi untuk mengeluarkan daging tutut. “Nikmatnya itu saat lagi ngecrok,” ungkap Ayu.
Istilah ngecrok mungkin hanya dikenal oleh orang Sunda. Ngecrok adalah salah satu cara makan tutut dengan menyedot daging tutut oleh mulut agar keluar dari cangkang. Tarikan udara yang keluar dari mulut pelan-pelan akan mengeluarkan si daging tutut tadi.
Memang akan butuh waktu lama untuk menghabiskan satu porsi tutut bercangkang. Sebab layaknya makan kuaci, tutut pun dimakan satu demi satu. Tapi di situlah letak nikmatnya. Saat ngecrok, bumbu-bumbu yang menyerap di dalam cangkang tutut akan tersedot dan menimbulkan sensasi berbeda.
Siti Sophia (43), salah seorang penjual di sekitar Yasmin, mengaku sedang mencoba menjual tutut olahan di tempat tersebut. Dia menjual Rp3.000 untuk satu porsinya. Dalam hitungannya, 90 kg tutut bisa terjual habis dalam sehari.
BOGOR–Siapa yang tak kenal tutut. Salah satu jenis keong sawah itu jadi primadona di Kota Bogor. Hal itu setidaknya terlihat di sekitar Jalan KHR Abdullah bin Nuh, kawasan Taman Yasmin, Kecamatan Bogor Barat.
Jalan sepanjang satu kilometer itu dijejeri penjual tutut. Dengan gerobak khusus, mereka berusaha menarik penggemar yang mungkin saja ‘kangen’ dengan penganan tradisional itu. Pantauan Radar Bogor, setiap gerobak tak pernah sepi didatangi pembeli. Bahkan, penggemar tutut bisa langsung mengonsumsinya di kursi atau alas yang disediakan pedagang.
Di-kecrok, begitulah cara orang Sunda makan tutut. Namun jika tak terbiasa, Anda bisa mengeluarkan tutut dari cangkangnya dengan menggunakan tusuk gigi.
Ayu Lestari (21) misalnya. Mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor ini lebih suka menikmati tutut yang masih bercangkang, meski harus menggunakan tusuk gigi untuk mengeluarkan daging tutut. “Nikmatnya itu saat lagi ngecrok,” ungkap Ayu.
Istilah ngecrok mungkin hanya dikenal oleh orang Sunda. Ngecrok adalah salah satu cara makan tutut dengan menyedot daging tutut oleh mulut agar keluar dari cangkang. Tarikan udara yang keluar dari mulut pelan-pelan akan mengeluarkan si daging tutut tadi.
Memang akan butuh waktu lama untuk menghabiskan satu porsi tutut bercangkang. Sebab layaknya makan kuaci, tutut pun dimakan satu demi satu. Tapi di situlah letak nikmatnya. Saat ngecrok, bumbu-bumbu yang menyerap di dalam cangkang tutut akan tersedot dan menimbulkan sensasi berbeda.
Siti Sophia (43), salah seorang penjual di sekitar Yasmin, mengaku sedang mencoba menjual tutut olahan di tempat tersebut. Dia menjual Rp3.000 untuk satu porsinya. Dalam hitungannya, 90 kg tutut bisa terjual habis dalam sehari.
EmoticonEmoticon