Jumat, 06 Januari 2012

TETAP OPTIMIS: Tampak siswa-siswi sekolah RSBI ini begitu serius mengikuti debat politik sebagai salah satu kegiatan dalam rangka peningkatan mutu pe

TETAP OPTIMIS: Tampak siswa-siswi sekolah RSBI ini begitu serius mengikuti debat politik sebagai salah satu kegiatan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Mereka tetap optimis, meski pemerintah menyatakan tidak satu pun RSBI yang bisa naik status menjadi SBI.
JAKARTA–Terus ditekan persoalan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang tak kunjung menjadi Sekolah Berstandar Internasional (SBI), membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pasang kuda-kuda.

Mendikbud, Mohammad Nuh menegaskan, kementerian yang dipimpinnya memasang target SBI pertama harus berdiri pada 2013. Nuh mengatakan, hingga saat ini belum ada satu pun sekolah RSBI yang layak menjadi SBI.

Meski begitu, Nuh menjelaskan jika pihaknya tak akan tinggal diam terhadap laju perkembangan RSBI ini. Nuh mengatakan, pihaknya sudah memasang target keberadaan sekolah berlabel SBI.

“Tahun depan (2013, red) kami targetkan sudah ada SBI untuk masing-masing jenjang pendidikan,” ujar mantan Menteri Komuniasi dan Infomasi (Menkominfo) itu. Keberadaan SBI ini diharapkan terus berkembang.

Misalnya, di satu daerah ada satu sekolah yang sudah berstatus SBI.

Menurut Nuh, dari seluruh RSBI yang ada saat ini kondisinya cukup beragam. Ada yang sudah hampir siap menjadi SBI dan ada RSBI yang masih perlu pendampingan ekstra untuk siap menjadi SBI.

Kekurangan RSBI sehingga belum siap menjadi SBI di tiap sekolah pada jenjang apa pun beragam. Mulai dari urusan tenaga pengajar yang belum banyak berijazah pascasarjana (S-2).

Seperti diketahui, untuk jenjang SD setiap RSBI harus menyiapkan sepuluh persen guru S2, SMP 20 persen dan SMA/SMK 30 persen. Selain urusan guru, Nuh mengatakan, beberapa RSBI bisa meningkatkan fasilitas laboratorium sebagai penunjang pembe­lajaran.

Selanjutnya, persoalan ketersediaan buku, akses kerjasama dengan pendidikan luar negeri, serta kualitas lulusan di sebagian besar RSBI akan dipantau secara lebih mendalam.

Di tengah gelombang penghentian bahkan pembubaran RSBI, Nuh mengatakan, ada sejumlah RSBI yang kualitasnya benar-benar jempolan. Di antaranya SMAN 8 Jakarta. Nuh pun menyorot kualitas siswa yang belajar di sekolah di kawasan Tebet, Jakarta Selatan itu.

Saking berkualitasnya, ujar dia, menjelang pelaksanaan UN (ujian nasional) sejumlah perguruan top lokal dan luar negeri sudah membuka pameran untuk merekrut calon alumni. “Istilah jika kita beli motor, mereka itu inden dulu untuk merekrut alumni SMAN 8 Jakarta,” ucap Nuh.

Potensi beberapa RSBI yang bagus ini sangat sayang jika akhirnya harus dihapus. Dia menjelaskan, kastanisasi di pendidikan tidak menjadi persoalan.
Asalkan kastanisasi itu untuk urusan mutu pendidikan.

Tapi jika kastansiasi ini cenderung mengarah pada pertimbangan sosial ekonomi wali murid, Nuh sangat menolaknya.

Pihak Mendikbud siap berada di garda terdepan untuk menutup RSBI yang menutup akses untuk siswa miskin berprestasi. Nuh juga mencoba menjelaskan kepada masyarakat terkait keberadaan 1.305 RSBI yang belum siap menjadi SBI.

Meskipun di antara RSBI itu sudah didirikan sejak 2005 silam. Dia menganalogikan pendirian RSBI dalam rangka membuat SBI seperti perjalanan mudik dari Jakarta menuju Surabaya dengan mobil.

“Sekarang ini masih masuk Cikampek. Jika ada mobil yang bannya bocor, atau mesinnya mogok, masak harus disuruh kembali lagi ke Jakarta,” kata dia. Jika cara ini ditempuh, ujar Nuh, pemudik tadi tidak akan pernah sampai Surabaya.

Begitu pula dengan keberadaan ribuan RSBI yang belum siap menjadi SBI. “Tidak bisa langsung diturunkan lagi menjadi Sekolah Standar Nasional (SNN),” kata dia.

Cara yang lebih bijak adalah, Kemendikbud terus mengintervensi RSBI yang tidak kunjung menjadi SBI.


EmoticonEmoticon